MAKALAH
BAHASA INDONESIA
“KARYA ILMIA (SIFAT MA’ANI DAN MA’ANAWIYAH)’’
DOSEN
PENGAMPUH
HENDRY
FIRMANSYAH, M.Pd
DISUSUN
OLEH :
NUZULIA
HERLIANA (1911330050)
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN DAKWAH
FAKULTAS
USHIULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI BENGKULU TAHUN AKADEMIK 2019-2020
KATA PENGANTAR
Puji
syukur marilah kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
karuniannya saya bisa menyelesaikan makalah Bahasa Indonesia yang berjudul “KARYA ILMIA (SIFAT MA’ANI DAN MA’ANAWIYAH)”
dalam penulisan ini saya menyadari masih banyak sekali kekurangan yang terdapat
dalam makalah ini, semoga hal ini tidak menghalangi saya untuk terus belajar. Saya
berharap dimasa yang akan datang, saya dapat yembuat Makalah yang lebih baik lagi.
Didalam
penyusunan makalah ini saya mendapat bimbingan dari Dosen yaitu HENDRY FIRMANSYAH, M.Pd semoga dengan membuat makalah ini dapat
menambah kempuan dan pengetahuan saya dimasa yang akan datang.
Saya berharap makalah ini dapat mendatangkan
pengetauhan bagi saya dimasa
yang akan datang dan juga memberi manfaat bagi pembaca agar lebih meningkatkan
kesadaran untuk membaca dan mancari informasi seluas mungkin.
Akhir
kata saya ucapkan Terima Kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT
senantiasa meridohai segala usaha kita.
DAFTAR ISI
COVER……………………………………………………………………………i
KATA PENGANTAR…………………………………………….………………ii
DAFTAR ISI………………………………………………….……………...…..iii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan
masalah……………………………………………….........……2
C. Tujuan ………………………………………………………............……..............2
BAB 11 PEMBAHASAN
A.
Sifat
Ma’ani…………………………………………............………………..……3
1. Qudrah…………………………………………………………………3
2. Iradah……………….…………………………………………………4
3. Ilmu……………………………………………………………………5
4. Ayat……………………………………………………………………6
5. Kalam………………………………………………………………….8
6. Sama’…………………………………………………………..………8
7. Basor ……………………………………………………………...…..9
B.
Sifat
Ma’anawiyah ………………………………………….............…..…..……10
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan………………………………………………………….............……12
DAFTAR
PUSTAKA………………………………………………..…….……13
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Telah kita ketahui bersama
bahwasannya Allah menciptakan makhkuk
ini untuk beribada kepada-nya, maka ketahuilah bahwah jika kalau
hambanya tidak beribadah kepada Allah tidak ada kurang dan rugi,
tapi yang rugi hanyala hambanya yang tidak mau beribadah
kepadanya.
Firman Allah SWT : (Surah Adz – Dzariyaat 1:56) yaitu:
Artinya
: “Dan aku tudak menciptakan jid dan manusia melaikan supaya mereka beribadah
kepada – ku.’’
Sifat – sifat wajib bagi Allah, wajib hukumnnya bagi setiap muslim mukallaf (yang telah
dewasa) laki – laki maupun p erempuan, baik dari golongan awam mengetahui
terhadap beberapa sifat kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah, Sifat –
sifat wajib bagi Allah, yang Mustahil ataupun yang jaiz bagi Allah.
SIFAT MA’ANI adalah sifat yang pasti ada pada Zat
Allah. Sifat ini ada 7 yaitu : Qudrah ( Kuasa) apapun bisa dilakukannya, Iradah
( Berkendak) semua terjadi atas kehendak Allah, Ilmu (Mengetahui) Allah itu
Maha Mengetahui segala segala sesuatu termasuk apa yang ada di hati manusia,
Hayat ( Hidup), Sama’ ( mendengar), Bashar ( Melihat) dan Kalam (Bekata – kata).
SIFAT
MA’ANAWIYAH Adalah sifat yang melazimi atau menjadi akibat
dari sifat MA’ANI, sifat ini terdiri dari 7 sifat yaitu :
Kaunuhu Qadiran (Keberadaan Allah Maha Kuasa).
Kaunuhu Muridan (keberadaan Allah maha
menentukan), Kaunuhu
Aliman
(Maha Menetahui), kaunuhu Ayyan (Maha Hidup),Kaunuhu Sami’an (Maha Mendengar),
Kaunuhu Bashiran (Maha Melihat), Kaunuhu Muta Qaliman ( Maha Berkata – kata).
B. Rumusan
Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan sifat Ma’ani
dan sifat ma’nawiyah?
2. Apa yang Apa saja
sifat Ma’ani dan sifat Ma’anawiyah?
C. Tujuan
1.Agar
pembaca mengetahui apa yang di maksud dengan sifat Ma’ani dan ma’anawiyah.
2.Agar
pembaca mengetahui apa saja sifat – sifat Ma’ani dan Ma’anawiyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. SIFAT MA’ANI
Yaitu sifat – sifat wajib bagi Allah yang
dapat di gambarkan oleh akal pikiran
manusia, serta
dapat meyakinkan orang lain, lantaran keberadaannya dapat di buktikan oleh
panca indra. Yang termasuk kelompok ini adalah Qodrah, Iradah, Ilmu,
Hayat, Bashor dan Kalam[1].
Kata
ma’ani juga berarti “sesuatu” (syai’). Baik ma’ani mau pun syai’ digunakan sebagai terjemahan dari
kata Yunani pragma (sesatunya) sifat
Allah yang nyata (Rill) dan Abadi[2].
Sifat ma’ani adalah sifat yang beradanya
berdiri pada zat Allah SWT yang wajib baginya.[3]
Jadi sifat Ma’ani adalah sifat – sifat yang hanya berada pada Allah tidak ada makhluk
ciptaannya yang memiliki sifat – sifat sepetinya.[4]
Sifat ma’ani terdiri dari 7
sifat yaitu :
1. Qudrah
(Kuasa)
Allah SWT itu adalah maha kuasa, tidak lemah sedikit pun
untuk melakukan sesuatu. Adapun kekuasaan Allah SWT itu dapat berlaku dalam segala waktu yakni
untuk mewujudkan semua yang mungkin atau melenyapkannya.[5]
Wajib bagi Allah mempunyai sifat Qudrah. Dan sifat ini merupakan aplikasi
dari sifat wujud yang telah dahulu dan selalu mewujudkan sifat dahulu dan
selalu menetap pada zat Allah. Dengan sifat Qudrat ini, Allah akan mewujudkan
atau meniadakan segala sesuatu kemungkinan yang sesuai dengan kehendaknya[6].
Qudrah (Maha
Kuasa) adalah sifat yang azali yang berada pasti pada zat-nya Allah SWT yang
kuasa menjadikan dan menghancurkan setiap yang mungkin sesuai dengan iradah –
nya.[7]
jadi Qudrah
(Maha Kuasa) ialah menjelaskan bahwa Allah itu Maha Kuasa apa yang di kehendakinnya
pasti terjadi karna Allah memiliki sifat
qudrah (Maha Kuasa).[8]
2. Iradah
(Berkehendak )
Allah SWT itu adalah maha berkhendak. Maksudnya ialah
bahwa dia mentukatan sesuatu yang mungkin dengan sebagian dari apa yang pantas
berlaku untuknya.[9]
Wajib
bagi Allah mempunyai iradah (Berkehendak). Dengan sifat ini Allah mentukan
perkarah yang mungkin dengan sifat iradah itu, dalam arti sebagian perkarah
yang mungkin wujudnya. Ada Allah mewujudkan atau meniadakan sesuatu dengan iradah.
Firman Allah : (QS.YASIN : 82).[10]
إِنَّمَآ
أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
Artinya:
“Sesungguhnya keadaan kekuasaan-nya
apabila Ia menghendaki adanya sesuatu, hanyalah Ia berfirman kepada (hakikat)
benda itu: ” Jadilah engkau! “. Maka ia terus menjadi”.
Iadah
(maha berkehendak) adalah sifat azali yang berada pada zat-nya Allah SWT
Mentukan suatu yang mungkin dengan sebagian yang
boleh terhadapnya,seperti Allah mentukan bahwa zait
pintar dan ziat bodoh.
إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا
أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
Sesungguhnya
perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya
mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia.
Jadi iradah ( maha berkehendak) merupakan saah satu sifat yang dimiliki Allah,
maksud dari iradah ialah Allah bisa berkehendak sesuai
yang dia inginkan.[12]
3. ‘ILMU (Mengetahui)
Allah maha mengetahui segala sesuatu dan memang apa saja
yang maujud sebagai mahkluknya ini diliputi oleh pengetahuannya, baik sesuatu
sudah terjadi ataupun yang akan terjadi nanti.
Firman Allah : (QS.MUJADALAH : 7)[13]
Allah mengetahui semua mahkluk yang
meliputi apa saja yang berlaku/berjalan di muka bumi sampai diatas langit yang
sekecil apapun dari yang melata dimuka bumi dan langit tidak akaan terlepas
dari pengetahuannya.
Firman Allah :
(QS.AL-AN’AAM :59).[14]
عِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا
يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا
تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ
وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Artinya
:
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua
yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui
apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur
melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam
kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan
tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"
Ilmu (maha
mengetahui) adalah sifat qadim yang berada pada zat-nya Allah SWT. Mengetahui
seluruh sesuatu yang bersagkut paut dengan sekalian yang wajib,mustahil,dan
yang boleh tanpa diketahui oleh sesuatu yang menutupi pengetahuannya.
Firman Allah : (QS.AL-AN’AAM:59).[15]
عِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا
يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا
تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ
وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
Artinya
:
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua
yang ghaib : tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia
mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang
gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun
dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan
tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)"
Jadi ilmu (maha mengetahui) maksudnya Allah itu maha
mengetahui apapun yang ada dilangit dan dibumi walau sekecil apapun itu.[16]
4. HAYAT
( hidup)
Hidup Allah SWT Adalah sempurna
sekali,bahkan tidak ada kehidupuan kesempurnaan sekali, bahkan tidak ada suatu
kehidupan yang mendekati kesempurnaan daripada kehidupan yang dimilikinya.
Firman Allah : (QS. FURQAN : 58).[17]
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي
لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا
Artinya
:
“Dan
bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati dan bertasbihlah
dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya”.
Wajib
bagi Allah menpunyai sifat hayat/hidup. Sifat ini yang membenarkan bahwa Allah menpunyai sifat
Ilmu, Qudrah,
Iradah, Sama,Bashar, dan Kalam. Hidup disini adalah terdapat zat Allah dan
tidak disertai seperti mahkluk[18].
Hayat
(Hidup) Adalah sifat yang Qadim berdiri pada zat Allah
SWT yang maha hidup, dengan adanya sifat Hayat menetapkan dan mengkuatkan
adanya sifat Qudrah, Iradah ,Ilmu, Sama, Bashar dan Qalam.
لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ
بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَٰكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا كَسَبَتْ
قُلُوبُكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ
Artinya
:
“Allah tidak menghukum kamu disebabkan
sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu
disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyantun”.
Jadi Hayat (Hidup). Merupakan sifat Allah yang
meyakini bahwa Allah itu hidup dengan
itu sebagai landasan adanya sifat - sifat Ma’ani.[20]
5. Kalam
(Berfirman /Berkata )
Allah SWT adalah maha berfirman. Cara berfirman Allah SWT itu tidak dengan
huruf ataupun surah. Sifat ini di tetapkan oleh Allah SWT untuk dirinya sendiri
dan bahwa dia telah berbicara kepada Musa a.s.
Firman Allah : (QS. NISA : 164).[21]
Kalam
adalah wajib bagi Allah memiliki sifat Kalam (Berbicara). Kalam Allah bukan
dengan huruf dan tidak pula dengan suara.[22]
Kalam (Maha
Berbicara) adalah sifat yang qadim yang terdiri pada zat-nya Allah yang maha
berbicara tanpa menggunakan huruf dan suara.
Firman Allah : (QS. AN – NISA : 164 ).[23]
وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ
عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ اللَّهُ
مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
Artinya
:
“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul
yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan
rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah
berbicara kepada Musa dengan langsung”.
Jadi kalam (Maha Berbicara) Allah
itu Maha Berbicara tanpa suara ataupun
menggukan huruf, Allah itu berbicara sebagai pedoman hidup makhluk ciptaannya.[24]
6.
Sama’ (Maha Mendengar )
Allah SWT adalah Maha Mendengar jadi dapat mendengar
segala sesuatu yang mewujud ini. Sampaipun gerakan seekor semut hitam yang
berjalan di atas batu licin pada malam yang amat gelap gulita. Ini dapat di
dengarnya tanpa di kalahkan oleh pendengarannya oleh benda – benda lain yang
semuanya itu pun dapat di dengarnya pula.
Firman Allah : (QS.MUJADILAH : 1)[25]
قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي
تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ
تَحَاوُرَكُمَا ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ
Artinya
:
“Sesungguhnya Allah telah mendengar
perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan
mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu
berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
Sama’ (Maha Mendengar ) adalah sifat
yang kadim berdiri pada zat – nya Allah SWT yang maha mendengar dari seluruh
yang ada baik suara ataupun selainnya.[26]
Sama
merupakan salah satu sifat yang di miliki oleh Allah sama’ artinya Maha Mendengar Allah Maha Mendengar apapun
yang terjadi di langin dan di bumi.[27]
7. BASOR
(Maha Melihat )
Allah SWT memiliki sifat Basor yang
artinya maha melihat, Allah itu Maha Melihat apapun yang dikerjakan oleh
hambanya.
Firman Allah : ( QS.GHAFIR :20).[28]
وَٱللَّهُ يَقْضِى بِٱلْحَقِّ وَٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا يَقْضُونَ بِشَىْءٍ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Artinya
:
“Allah menghukum dengan keadilan. Dan
sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tiada dapat menghukum dengan
sesuatu apapun. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Melihat”.
B. SIFAT MA’ANAWIYAH
Sifat – sifat Dzat yaitu sifat – sifat Tsubutiah
atau sifat – sifat Ma’anawiyah, yakni sifat : Qadim (Maha Kuasa), Muridah (Maha
Berkendak), ‘Aliman (Maha Mengetahui), Hayyan (Maha Hidup), Sami’an (Maha
Mendengar), Basiran (Maha Melihat). Adapun sifat – sifat Af’al itu ialah
seperti sifat menciptakan dan memberi rizki.[30]
Sifat Ma’anawiyah adalah sifat – sifat yang
melazimi dari sifat Ma’ani,
dengan kata lain
sifat Ma’anawiyah adalah sifat yang wujud di sebabkan
adanya sifat
Ma’ani, seperti Allah memiliki sifat Kuasa, maka lazimlah Allah itu keadaannya
Kuasa.[31]
Jadi sifat Ma’anawiyah adalah sifat –
sifatyang ada pada sifat Ma’ani.[32]
Yang
termasuk sifat Ma’anawiyah adalah :
1. Qadirat (Maha Kuasa), adalah sifat
yang selalu menetap pada Qodrat Allah. Lawan dari qadirat adalah ‘ajizan (Sangat
Lemah)
2. Muridan (Maha Berkendak), adalah
sifat yang melazimi sifat iradat Allah. Lawan dari iradat adalah karihan
(Terpaksa).
3.’Alimann (Maha
Mengetahui), yang sifat ‘Ilmu Allah. Lawan dari ‘alamin adalah jaahilan
(bodoh).
4.Hayyan (Maha
Hidup), yang melazimi sifat hayat Allah. Lawan dari hayyan adalah mayyiti (Mati).
5.Sami’an (Maha
Mendengar), yaitu melazimi sifa sama’ Allah. Lawan dari sami’an adalah a’ma (Tuli)
6.Bashiran (Maha
Melihat), yang melazimi sifat bahsor. Lawan dari bashirian adalah ashoma
(Buta), Takliman (Maha Berbcara), yang melazimi sifat kalam Allah. Lawan dari
takliman adalah abkam (bisu).[33]
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Beriman kepada
sifat – sifat Allah merupakan hal yang wajib dan patut di ketahui oleh seluruh
umat muslim yang ada didunia.
Sifat
Ma’ani dan sifat Ma’anawiyah adalah sifat – sifat yang dimiliki oleh Allah SWT,
di dalam sifat Ma’ani dan sifat Ma’anawiyah menceritakan kebesaran –
kebesaran Allah, maka wajb bagi kita untuk mengimaninya.
Jadi, beriman
kepada sifat – sifat Allah merupakan hal yang sangat berharga dan patut di
pelajari. Karena, selain memberikan hikmah – hikmah yang sangat bermanfaat juga
memberikan pembelajaran untuk kehidupan kita baik didunia ataupun di akhirat, agar iman dan
kepercayaan kita tiga goyang.
DAFTAR
PUSTAKA
https://play.google.com/store/apps
/details?id=com.syabian.Tauhid.Kitab
Tauhud
Kitab
Tauhid
Mulyano
dan Bashori. Studi ilmu tauhid / kalam
Sayid
sabiq. Aqidah islam
[1]
Kitab Tauhid
[2]
Mulyano dan Bashori. Studi ilmu tauhid /
kalam Hal 154.
[3]
https://play.google.com/store/apps /details?id=com.syabian.Tauhid.Kitab Tauhud
: senin,16-12-2019 pkl 13.00
[4] Kesimpulan
dari diri saya sendiri
[5]
Sayaid sabig.Aqidah Islam Hal 104
[6]
https://play.google.com/store/apps /details?id=com.syabian.Tauhid.Kitab Tauhud
: senin,16-12-2019 pkl 13.00
[7] Kitab tauhid
[8]Kesimpulan
dari diri saya sendiri
[9] Sayid
sabiq.Aqidah islam Hal 106
[10]Kitab Tauhid
[11]
https://play.google.com/store/apps /details?id=com.syabian.Tauhid.Kitab Tauhud
: senin,16-12-2019 pkl 13.00
[12]Kesimpulan
dari diri saya sendiri
[13]Sayid
sabiq. Aqidah islam Hal 108
[14] Kitab Tauhid
[15]https://play.google.com/store/apps
/details?id=com.syabian.Tauhid.Kitab Tauhud : senin,16-12-2019 pkl 13.00
[16]
Kesimpulan dari diri saya sendiri
[17]
Sayid sabiq. Aqidah islam Hal 10
[18]Kitab Tauhid
[19]
https://play.google.com/store/apps /details?id=com.syabian.Tauhid.Kitab Tauhud
: senin,16-12-2019 pkl 13.00
[21]
Sayid sabiq. Aqidah islam Hal 11
[22]
Kitab Tauhid
[23]https://play.google.com/store/apps
/details?id=com.syabian.Tauhid.Kitab Tauhud : senin,16-12-2019 pkl 13.00
[25]
Sayid sabiq. Aqidah islam Hal 112
[26]Kitab Tauhid
[27]
https://play.google.com/store/apps /details?id=com.syabian.Tauhid.Kitab Tauhud
: senin,16-12-2019 pkl 13.00
[28]
Sayid sabiq. Aqidah islam Hal 112
[29] kesimpulan
dari diri saya sendiri
[30]
Sayid sabiq. Aqidah islam Hal 114
[31]
https://play.google.com/store/apps /details?id=com.syabian.Tauhid.Kitab Tauhud
: senin,16-12-2019 pkl 13.00
[32] Kesimpulan dari diri saya sendiri
[33]https://play.google.com/store/apps
/details?id=com.syabian.Tauhid.Kitab Tauhud : senin,16-12-2019 pkl 13.00